Jumat, 11 Mei 2012

Antropologi / Evolusi


  1. Definisi Evolusi
Evolusi adalah perubahan secara berangsur-angsur dari sederhana menuju bentuk yang komplek.

  1. Evolusi di bagi menjadi dua, yaitu :

1.      Evolusi Fisik

Pada tahun 1859, Charles Darwin ( 1809-82 ) menerbitkan buku On the Origin Of Species, pernyataan resmi pertama tentang teori evolusi melalui “ seleksi alam”. Ini mengindikasikan bahwa organisme berkompetisi dengan kekuatan – kekuatan alam, dan mereka yang paling mampu bertahan hidup melakukannya dengan lebih baik dan mewariskan sifat-sifat yang menguntungkan tersebut kepada yang lain secara genetic. Menurut Darwin evolusi tersebut terjadi secara bertahap bukan dalam tingkatan-tingkatan yang terpisah, dan gagasan itu tidak menyiratkan perkembangan yang bersifat satu arah. Selain itu, teori tersebut tidak berlaku untuk perkembangan masyarakat. Tetapi, para pakar evolusi budaya memiliki gagasan yang sedikit berbeda. [1]
Ø  Pokok-Pokok Pikiran Darwin

Pokok- pokok pikiran Darwin adalah bahwa teori evolusi juga dijadikan rujukan dalam membahas proses-proses evolusi social sampai paruh kedua abad ke-19. kelompok evolusionisme beranggapan bahwa seluruh organisme hidup mengalami proses evolusi dari yang sangat sederhana sampai meningkat ke yang lebih kompleks.artinya bahwa masyarakat berkembang mengikuti cara yang sama seperti yang dilalui oleh species hewan kera dari segi adaptasi lingkungannya.
Kami tidak setuju dengan teori Darwin, menurut argumen kelompok kami bahwa manusia itu tidak mengalami proses evolusi. Sejak awal manusia hadir secara fisik seperti manusia pertama di muka bumi ini, yaitu Nabi Adam.

2.      Evolusi Budaya

Menurut Sir James Frazer ( 1854-1941 ), seorang ilmuan klasik yang menjadi professor Antropologi pertama di Universitas Liverpool pada tahun 1908, hidup di dalam sebuah dunia yang dikelilingi oleh buku. Ia menjadi terkenal setelah menulis buku The  Golden Bough ( diterbitkan dalam 13 volume sejak tahun 1890 ). Ini merupakan karya ilmiah yang menakjubkan tetapi sangat spekulatif, membandingkan berbagai adat-istiadat dan keyakinan di seluruh dunia dalam upayanya untuk menelusuri evolusi agama dalam masyarakat manusia. Menurut legenda antropologi, saat ditanya apakah ia bersedia berkunjung atau bertemu dengan salah satu dari orang-orang yang ditulisnya, dia menjawab dengan ngeri : “ jangan sampai terjadi “.
Beberapa ilmuan lain pernah melakukan kontak langsung dengan masyarakat – masyarakat yang sangat berbeda dengan masyarakat mereka.Edward B Tylor, pernah menghabiskan waktu satu tahun untuk menjelajahi Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko, dan percaya bahwa pikiran manusia adalah sama dalam semua kebudayaan manusia, meskipun tingkatan –tingkatan perkembngan budaya nya berbeda.
Ahli hukum Amerika, Lewis Henry Morgan ( 1818-81 ), adalah salah satu ahli evolusi yang paling penting dan paling berpengaruh, bukan semata- mata karena buku yang ia tulis, Ancient Society, yang  diterbitkan pada tahun1877. Sebagian besar ketertarikannya muncul akibat kontaknya dengan suku Indian Iroquois di Negara Bagian New York. Bahkan ketertarikannya membuatnya menemukan sebuah masyarakat rahasia yang disebut The Gordion Knot yang melakukan pertemuan-pertemuan pada malam hari di seputar api unggun, dengan kostum suku Indian yang masih asli. Selain tertarik pada tema-tema hukum, seperti istilah-istilah yang terkait dengan pertalian keluarga – keluarga pemerintahan dan tanah milik, ia juga menciptakan sebuah teori evolusinya yang detail dengan menganggap “ tahapan perkembangan manusia dibagi menjadi tiga fase- mulai dari biadab, barbar, sampai beradab.
Factor kunci dalam teorinya adalah perkembangan tehnologi. Barbarisme dipercaya muncul bersamaan dengan ditemukannya tembikar, dan peradaban muncul dengan digunakannya abjad dan tulisan. Tahap-tahapan tersebut juga dikaitkan dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya tanah milik dan meningkatnya moralitas, karena ia percaya ( tanpa bukti nyata ) bahwa didalam masyarakat –masyarakat terdahulu, kebebasan seks merupakan hal yang lazim.  
Ø  Pokok- pokok Pikiran atau Teori Para Ahli

Edward B Taylor  berpendapat bahwa Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi sangat lambat, yakni selama beberapa ribu tahun, dari tingkat-tingkat yang rendah, dan melalui beberapa tingkat antara sampai pada tingkat –tingkat yang tinggi. Bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia dari tingkat yang paling tinggi itu adalah seperti bentuk masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat pada waktu itu. Selain masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa Eropa, semuanya mereka anggap “ primitife “ dan lebih rendah, dan merupakan sisa bangsa didunia digolongkan menurut  berbagai tingkat evolusi. Ketika sekitar tahun 1860 ada beberapa karangan yang mengklasifikasikan bahan-bahan mengenai berbagai kebudayaan di dunia dalam berbagai  tingkat evolusi.[2]
 Intinya gagasan dasar tentang evolusi kebudayaan menyatakan bahwa masyarakat dan budaya telah berkembang mengikuti serangkaian tahapan yang bisa diduga dan teratur.
Menurut pemikiran Sir James Frezer,evolusi budaya  primitive modern dianggap sama dengan tahap-tahap awal yang pernah diraih budaya-budaya Eropa, titik-titik tinggi dalam perkembangan budaya.
Pokok pikiran Lewis Henry Morgan, dia juga termasuk pendukung teori evolusi social. Tahap perkembangan masyarakat yang dikemukakan Morgan merupakan salah satu teori evolusi social dan budaya yang berpengaruh pada abad ke-19. pokok pikirannya adalah bahwa manusia memiliki tiga tahap evolusi / perkembangan masyarakat ,yaitu savagery,barbarism,civilization. Pada tahap savagery ( liar buas ), manusia hidup dengan berburu dan meramu. Pada tahap barbarism ( liar ganas ) manusia mulai mengenal cara bercocok tanam dan berternak hewan. Sementara masyarakat yang berperadaban sudah ditandai dengan system penulisan dan mampu membentuk system pemerintahan kerajaan atau state.

DAFTAR PUSTAKA
Coleman, Cimon & Watson, Helen.2005.Pengantar Antropologi.Bandung: Nuansa
Kontjaraningrat, Pengantar Antropologi
Pujileksono, sugeng.2006.Sebuah Pengantar Antropologi.Malang : UMM press.



[1] Coleman, Simon, & Watson, Helen.2005. Pengantar Antropologi. Bandung : Nuansa. Hlm 36
[2] Konjaraningrat, pengantar sosiologi, hlm 8

Emosi / Psikologi UMUM


A.   Pengertian Emosi
Kata “ emosi “ diturunkan dari kata bahasa prancis, emotion dari emouvoir, “ kegembiraan “ dari bahasa latin “ emovore “ yang artinya mencerca, yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu.dan movere yang berarti “ bergerak.”[1]
Emosi adalah perasaan yang tidak terkendali lebih mendekat pada kejasmanian.
Pada hakikatnya setiap orang itu mempunyai emosi. Dari bangun tidur pagi hari sampai waktu tidur malam hari, kita mengalami bermacam-macam pengalaman yang menimbulkan berbagai emosi pula. Pada saat makan pagi bersama keluarga, misalnya, kita merasa gembira atau dalam perjalanan menuju kantor, menuju kampus, kita merasa jengkel karena jalanan  macet, sehingga setelah tiba ditempat tukuan, kita merasa malu karena datang terlambat, dan seterusnya. Semua itu merupakan emosi kita.
Emosi pada umumnya berlangsung dalam waktu yang relative singkat, sehingga emosi berbeda dengan mood. Mood atau suasana hati pada umumnya berlangsung dalam waktu yang lama dari pada emosi, tetapi intensitasnya kurang apabila dibandingkan dengan emosi. Apabila seseorang mengalami marah ( emosi ) maka kemarahan tersebut tidak segera hilang begitu saja, tetapi masih berlangsung dalam jiwa seseorang ( ini dimaksud dengan mood ) yang akan berperan dalam diri orang yang bersangkutan, namun demikian ini juga perlu dibedakan dengan temperamen. Temperamen adalah keadaan psikis seseorang yang lebih permanent dari pada mood, karena itu temperamen lebih merupakan predisposisi yang ada pada diri seseorang, dank arena itu temperamen lebih merupakan kepribadian seseorang  apabila dibandingkan dengan mood.
Menurut William James ( dalam Wedge, 1995 ), emosi adalah “ kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya”.
Menurut Crow  ( 1962 ) mengartikan emosi sebagai “  Suatu keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment ( penyesuaian dari dalam ) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu”.
Dari definisi tersebut, jelas bahwa emosi tidak selamanya jelek. Emosi, meminjam ungkapan Jalaluddin Rakhmat ( 1994 ), “ memeberikan bumbu kepada kehidupan, tanpa emosi, hidup ini kering dan gersang.
Berkaitan dengan itu, Coleman dan Hammen ( 1974, dalam Rakhmat, 1994 ) menyebutkan, setidaknya ada empat fungsi emosi.
1.       Emosi adalah pembangkit energi ( energizer ). Tanpa emosi, kita tidak sadar atau mati. Hidup berarti merasai, mengalami, bereaksi, dan bertindak. Emosi membangkitkan dan memobilisasi energi kita, marah menggerakkan kita untuk mrnyerang. Takut menggerakkan kita untuk berlari. Dan cinta mendorong kita untuk mendekat dan bermesraan.
2.      Emosi adalah pembawa informasi ( messenger )
3.      emosi bukan hanya membawa informasi dalam komunikasi intrapersonal, tetapi juga pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal.
4.      emosi juuga merupakan sumber informasi tentang keberhasilan.
B.   Macam-macam Emosi
Atas dasar arah aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu : pertama, Marah, orang bergerak menentang sumber frustasi; kedua, Takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi; ketiga, Cinta, orang bergerak menuju sumber kesenangan; keempat, Depresi, orang menghentikan respons-respons terbukanya dan mengalihkan emosi kedalam dirinya sendiri.
Dari hasil penelitian, John B. Watson ( dalam Mahmud, 1990 ) menemukan bahwa tiga dari keempat respons emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu: takut, marah, dan cinta.
1.      Marah
Marah adalah keadaan psikologis yang menyimpang watak seseorang dari jalan yang dialami. ( Hartati, 2005:114 )
 Arif Budiman dan Abu Bakar Baraja dalam wetrimudrison, 2005:2 ) menyebutkan dalam bukunya mental sehat hidup nikmat. Mental sakit hidup pahit. Bahwa marah sebagai suatu emosi yang disebabkan karena seseorang menghadapi suatu keadaan yang tidak disukainya, atau bertentangan dengan kemauannya.
Dalam kitab ihya ulumuddin ( Imam Al-Gazali dalam wetrimudrison 2005:2 ) menerangkan bahwa marah bagaikan nyala api yang menyala berkobar- kobar, menyerang bergerak dalam hati manusia.
Secara psikologis marah adalah fenomena emosional. Dari beberapa pengertian marah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa marah adalah bentuk ekspresi manusia untuk melampiaskan ketidakpuasan, kekecewaan atau kesalahannya ketika terjadi gejolak emosional yang tidak terkendalikan.
Sedangkan ( Tice dalam Goleman,2003:82 ) menemukan bahwa amarah merupakan suasanan hati yang paling sulit dikendalikan. Marah merupakan suatu emosi penting yang mempunyai fungsi esensial bagi kehidupan manusia, yakni membantunya dalam menjaga dirinya. Pada waktu seseorang marah, energinya guna melakukan upaya fisik yang keras semakin meningkat. Ini memungkinkannya untuk mempertahankan diri atau melakukan segala hambatan yang menghadang dijalan dalam upaya untuk merealisasikan tujuan-tujuannya.
Emosi marah yang menguasai diri seseorang bisa membuat macet kemampuan berpikirnay yang sehat. Kadang-kadang ia melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang memusuhi, yang disesalinya setelah kemarahannya reda. ( Najati, 1985:79 )
Beberapa hal yang menyebabkan marah : Faktor penyebab mengapa seseorang maenjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: eksternal dan internal. Factor eksternal adalah hal-hal yang datang dari luar diri  sang individu. Contoh marah kepada atasan atau bawahan, dan lain-lain kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya factor-faktor yang ada dalam diri sendiri. Dengan kata lain ada unfinished business ( masalah yang tidak tuntas ) yang bisa memicu timbulnya marah. Contoh: ketakutan atau kekhawatiran terhadap sesuatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatic ataupun kenangan pahit pada masa lalu.
2.      Takut
Pada dasarnya rasa takut itu bermacam-macam. Ada yang timbul karena seorang anak kecil memang ditakut-takuti atau karena berlakunya berbagai pantangan dirumah. Akan tetapi, ada juga rasa takut “ naluriah “ yang terpendam dalam hati sanubari setiap insane. Misalnya saja rasa takut akan tempat gelap, takut berada ditempat sepi tanpa teman, atau takut menghadapi hal-hal asing yang tidak dikenal. Kengeri-ngerian ini relative lebih banyak diderita oleh anak-anak daripada orang dewasa. Karena, sebagai insan yang masih sangat mudah, tentu saja daya tahan anak-anak belum kuat.[2]
Setiap anak kerap kali diganggu oleh rasa takut dan pada beberapa anak, rasa takut ini sedemikian kuatnya, sehingga kebebasan mereka untuk bergerak menjadi sangat terhambat.
Sebenarnya orang dewasapun sering mengalami rasa takut ini. Banyak pula diantara mereka harus terus bergulat dengan masalah-masalah yang tidak terselesaikan yang secara langsung atau tidak langsung  berakar pada ketakutan-ketakutan yang mereka alami pada waktu kanak-kanak dulu.
Ada beberapa cara untuk mengatasi rasa takut pada anak :
Pertama; ciptakanlah suasana kekeluargaan/ lingkungan social mampu menghadirkan rasa keamanan dan rasa kasih saying. Kedua; berilah penghargaan terhadap usaha-usaha anak dan pujilah bila perlu. Ketiga; tanamkan pada anak bahwa ada kewajiban social yang perlu ditaati. Keempat; tumbuhkan pada diri anak kepercayaan serta keberanian untuk hidup; jauhkanlah ejekan dan celaan.
3.      Cinta
Apakah cinta ? sesungguhnya betapa sulitnya kita menjelaskan kata yang satu ini. Sama halnya ketika kita harus mendefinisikan ihwal kebahagiaan. Penyair Mesir, Syauqi Bey, melukiskan “ cinta “ dalam sebuah sajaknya:
Apakah cinta ? mulanya berpandangan mata. Lantas saling senyum. Kata berbalas kata dan memadu janji akhirnya bertemu.
Namun yang digambarkan Syauqi Bey ( dalam Akbar, !995: 14 ) diatas adalah cinta romantis, yaitu cinta waktu pacaran yang kadang-kadang berakhir putus setelah puas bertemu dan memadu cinta, tidak sampai mengikat kejenjang pernikahan. Adapun cinta yang tumbuh dalam pernikahan adalah lebih kuat dan lebih agung, karena Tuhan menciptakannya untuk menjalain pernikahan itu menjadi kekal, tidak gampang diputuskan, itulah yang dapat menumbuhkan rasa bahagia, membuahkan sakinah, menimbulkan kesetiaan yang tahan uji, yang tidak mudah ditembus oleh godaan dan rayuan siapapun.
A.   Gejala- gejala Kejiwaan Yang Digolongkan Dalam Emosi.
Ø  Perasaan
Perasaan ialah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subyektif. Unsur-unsur perasaan adalah sebagai berikut.
·  Perasaan bersifat subyektif daripada gejala mengenal.
· Perasaan bersangkut paut dengan gejala mengenal.
· Perasaan dialami sebagai rasa senang atau tidak senang, yang tingkatanya tidak sama.
Perasaan lebih erat hubungannya dengan pribadi seseorang dan berhubungan pula dengan gejala-gejala jiwa yang lain. Oleh sebab itu, tanggapan perasaan seseorang terhadap sesuatu tidsak sama dengfan tanggapan persaan orang lain, terhadap hal yang sama. Sebagai contoh ada 2 (dua) orang bersama-sama menyaksikan pementasan drama. Seorang diantaranya menanggapi pementasan para pemeran tersebut dengan rasa kagum dan senang, singkatnya dia menilai penampilan pementasaan drama itu sangat sempurna, tapi seorang yang lain menanggapi pementasan tersebut dengan acuh tak acuh, tampaknya pementasan itu biasa-biasa saja dan tidak menarik.
Karena adanya sifat subyektif pada perasaan inilah maka gejala perasaan tidak dapat disamakan dengan gejala mengenal, tidak dapat disamakan dengan pengam,atan, fikiran dan sebaginya. Perasaan tisdak merupakan suatu gajala kejiwaan yang terdiri sendiri, tetapi bersangkut paut dengan gejala mengenal. Kadng-kadang gejala perasaan diiringi oleh peristiwa mengenal dan sebaliknya pada suatu ketika gejala perasaan yang menyertai peristiwa mengenal. Gejala persaan bergantung pada:
a.       Keadaan jasmani,  misalnya badan dalam keadaan sakit, perasaan mudah tersinggung dari pada badan dalam keadaan sehat dan segar.
b.      Pembawaan, ada orang yang pembawaan berperasaan halus, sebaliknya ada pula yang kebal perasaannya.
c.       Perasaan seseorang berkembang sejak ia mengalami sesuatu. Keadaan yang dpat memengaruhi perasaan dapt memberikan orak dalam perkembangan perasaan.
Perasaan selain bergantung kepada stimulus yang datang dari luar, perasaan juga bergantung kepada :
a.       Keadaan jasmani individu yang bersangkutan.
b.      Keadaan dasar individu. Hal ini erat hubungannya dengan struktur individu.
c.       Keadaan individu pada suatu waktu, atu keadaan yang temporer seseorang.
*      Tiga Dimensi Perasaan Menurut Wundt.
Menurut Wundt, perasaan tidak hanya dapat dialami individu sebagai perasaan senang atau tidak senang, tetapi masih dapat dilihat dar dimensi lain. Memang salah satu segi perasaan itu dialami sebagai perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenagkan. Hal ini dinyatakan oleh Wundt sebagai dimensi yang pertama. Disamping itu masih terdapat dimensi lain bahwa perasaan itu dapat dialami sebagai suatu hal yang “exited” atau sebagai “inert feeling”, hal ini oleh Wundt dipergunakan sebagi dimensi yang kedua.disamping itu masih adanya dimensi lain yang dipegunakan sebagai dimensi yang ketiga yaitu “expextancy” dan “release feeling”
Sehubungan dengan soal dan waktu dan perasaan, Strens juga membedakan perasaan dalam tiga golongan yaitu.
a.       Perasaan-perasaan presens, yaitu yang bersangkutan dengan keadaan-keadaan sekarang yang dihadapi. Hal ini berhubungan dengan situasi yang aktual.
b.      Perasaan-perasaan yang menjangkau maju, merupakan jangkauan kedepan dalam kejadiaan-kejadiaan yang akan datang, jadi masih dalam pengharapan.
c.       Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan waktu-wktu yang telah lalu, atu melihat kebelakang yang telah terjadi.

*    Perasaan dan Gejala-Gejala Kejasmaniaan.
Gejala perasaan tidak berdiri sendiri, melainkan bersangkut paut dengan gejala-gejala jiwa yang lain bahkan perasaan dengan keadaan tubuh ini memang tidak dapat dipisahkan, contoh:
Kalau ada orang bercakap-cakap biasanya disertai dengan gerakan tangan. Gerakan ini tidak lain dari ungkapan perasaan untuk memperjelas apa yang dikatakan. Orang yang sedang menghormati orang lain, biasanya disertai dengan gerakan tangan
            Tanggapan-tanggapan tubuh terhadap perasaan dapat berwujud:
Ø  Mimik, gerak roman muka
Ø  Pantomimic, gerakan-gerakan anggota badan bagi orang bisu tuli, terdiri dari gerakan-gerakan yang termasuk mimik dan pantomimik.
Ø  Gejala pada tubuh, seperti denyut jantung bertambah cepat dari biasanya, muka menjadi pucat dan sebagainya.

*      Macam-Macam Perasaan

Dalam kehidupan sehari-hari sering didengar adanya perasaan yang tinggi dan perasaan yang rendah. Keadaan ini menunjukkan adanya suatu klasifikasi dari perasaan. Max Scheler mengajukan pendapat bahwa ada 4 macam tingkatan dalam perasaan, yaitu:
a.       Perasaan Pengindraan
Perasaan ini merupakan perasaan yang berdasarkan atas kesadaran yang berhubungan dengan stimulus pada kejasmanian, misalnya rasa sakit, panas, dingin.
b.      Perasaan Vital
 Perasaan ini bergantung kapada keadaan jasmani seluruhnya, misalnya rasa segar, lelah dan sebagainya.
c.       Perasaan kejiwaan.
Perasaan ini merupakan perasaan saperti rasa gembira, susah, takut.
d.      Perasaan kepribadian.
Perasaan ini merupakan perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan pribadi, misalnya perasaan harga diri prasaan putus asa , perasaan puas (Bigot, Kohstamm, palland, 1950)
Disamping itu kohstamm memberikan memberikan klasifikasi perasaan sebagai berikut:
a.       Perasaan keinderaan
Perasaan ini adalah perasaan yang berhubung dengan alat-alat indera, misalnya perasaan yang berhubungan dengan pencecapan, umpamanya asam asin, pahit, manis; yang berhubungan dengan baud an sebagainya. Juga termasuk dalam hal ini perasaan-perasaan lapar, haus, sakit, lelah dan sebagainya.
b.      Perasaan kejiwaan  (  Rohani  )
Dalam golongan ini perasaan masih dibedakan lagi atas:
1)      Perasaan intelektual
Perasaan ini merupakan jenis perasaan yang timbul atau menyertai perasaan intelektual, yaitu perasaan yang timbul bila orang dapat memecahkan sesuatu soal, atau mendapatkan hal-hal yang baru sebagai hasilkerja dari segi intelektualnya. Perasaan ini juga dapat merupakan suatu mendorong atau dapat memotivasi individu dalam berbuat; perasaan ini juga dapat merupakan motivasi dalam lpangan ilmu pengetahuan.
2)      Perasaan Kesusilaan
Perasaan kesusilaan timbul kalau orang mengalami hal-hal yang baik atau buruk menurut norma-norma kesusilaan. Hal-hal yang baik akan menimbulkan perasaan yana positif, sedangkan hal-hal yang buruk akan menghasilkan menimbulkan perasaan yang negatif.
3)      Perasaan Keindahan
Perasaan ini timbul kalau orang mengamati sesuatu yang indah atau yang jelek. Yang indah menimbulkan perasaan positif, yang jelek menimbulkan perasaan yang negatif.
4)      Perasaan Kemasyarakatan
Perasaan ini timbul dalam hubungan dengan orang lain. Kalau orang mengikuti keadaan orang lain, adanya perasaan yang menyertainya. Perasaan dapat bermacam-macam coraknya, misalnya benci atau antipasti, senang atau simpati.
5)      Perasaan Harga Diri
Perasaan ini merupakan perasaan yang menyertai harga diri seseorang. Perasaan ini dapat positif, yaitu kalau orang mendapatkan penghargaan terhadap dirinya. Perasaan ini dapat meningkat kepada perasaan harga diri lebih. Tetapi perasaan ini juga dapat bersifat negatif, yaitu bila orang mendapatkan kekecewaan. Ini dapat menimbulkan rasa harga diri kurang.
6)      Perasaan Ketuhanan
Perasaan ini berkaitan dengan kekuasaan Tuhan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan adalah dianugerahkannya kemapuan mengenal Tuhannya. Perasaan ini digolongkan pada peristiwa psikis yang paling mulia dan luhur. Kemampuan  yang demikian ini tidak terdapat dalaam diri binatang. Walaupun binatang itu sendiri dapat berpikir (dalam bentuk sederhana), tetapi tidak mampu hidup beragama. Oleh karena itu, pemilihan pola hidup religious adalah merupakan keputusan pribadi yang paling asasi dan memberikan kekuatan dalam menghadapi segala badai taufan kehidupan.

Ø  Affek dan Stemming (Suasana Hati)
Affek dapat diuraikan sebagai rasa ketegangan hebat kuat, yang timbul dengan tiba-tiba dala waktu singkat, tidak disadari dan disertai dengan gejala-gejala jasmaniah yang hebat pula. Sebagai akibatnya, pribadi yang mehinggapi affek tersebut tidak mengenal atau tidak menyadari lagi terhadap sesuatu yang diperbuatnya. Sedangkan Stemming adalah suasana hati bayangan berlangsung agak lama, lebih tenang, berkesinambungan, dan ditandai dengan cirri-ciri perasaan senang atau tidak senang.
Wilhelm Wundt. Tokoh psikologi eksperimental dalam sebuah analisis intropeksi telah menemukan affek dalam 3 komponen, yaitu:
a.       Affek yang disertai perasaan senang dan tidak senang.
b.      Affek yang menimbulkan kegiatan jiwa atau melemahkan.
c.      Affek yang berisi penuh ketegangan dan affek penuh relaks (mengendorkan).
Sedangkan Immanuel Kant membagi affek tersebut dalam dua ketegori, yaitu:
a.       Affek Sthenis (sthenos = kuat, perkasa) dengan mana individu menyadari kemampuan dan kekuatan tenaganya, sehingga aktivitas jasmani dan rohani bias dipertinggi.
b.      Affek Asthenis, ialah affek yang membawa perasaan kehilangan kekuatan, sehingga aktifitas fisik dan psikisnya terlumpuhkan karenanya.
Stemming atau suasana hati dapat diartikan sebagai suasana hati yang berlangsung agak lama, lebih tenang, berkesinambungan dan ditandai dengan ciri-ciri perasaan senang atau tidak senang. Sebab-sebab suasana hati itu pada umumnya ada dalam bawah sadar, namun ada kalanya juga disebabkan oleh factor jasmaniah. Jika suasana hati ini konstan sifatnya, maka peristiwa ini disebut “humeur”.

Ø  Simpati
Simpati ialah Sesuatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain. Dengan kata lain, suatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan sesuatu yang sedang dirasakan oleh orang lain. Simpati dapat timbul karena persamaan cita-cita, mungkin karena penderitaan yang sama, atau karena berasal dari daerah yang sama, dan sebagainya. Contoh : ketika ada tetangga yang berusaha untuk membantu, simpati lebih banyak terlihat pada hubungan sebaya dan lain-lain.[3]
Gejala perasaan yang berlawanan dengan simpati ialah antipati. Gejala perasaan ini menunjukkan ketidaksenangan kepada orang lain. Ketidaksenangan ini dapat berujud suatu kebencian. Dari kebincian ini terdapat unsur berlawanan atau bermusuhan. Antipasti ini timbul karena bermacam-macam sebab seperti halnya sempati.
Ø  Empati
Empati ialah suatu kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan orang lain andaikata dia dalam situasi orang lain tersebut. Karena empati, orang mengunakan perasaannya dengan effektif dalam situasi orang lain, didorong oleh emosinya seolah-olah dia ikut mengambil bagian dalam gerakan-gerakan yang dilakukan orang lain. Contoh : seorang ibu akan merasa kesepian ketika anaknya yang bersekolah diluar kota, ia rindu memikirkan anaknya hingga beliau terjatuh sakit.[4]

Ø  Masalah-Masalah Praktis.
a.      Fungsi Perasaan
1)      Mempunyai pengaruh yang besar kepada setiap perbuatan dan kemaun.
2)      Perasaan itu cepat dan mudah menular.
3)      Menyangkut perasaan indriawi seperti panas, dingin, sejuk, sedap dan lain-lain, juga perasaan vital. Perlu dilakukannya pembiasan demi pengembangan kepribadian.
4)      Seyogyanya senantiasa ditumbuhkan perasaan intelektual dalam  upaya membangkitkan motivasi.
5)      Gangguan yang serius dan kronis pada kehidupan perasaan dapat mengakibatkan timbulnya tingkah lakju abnormal dan gejala neurosa.
b.      Emosi dan Perkembangan Pribadi.
Karena emosi berpengaruh terhadap kejiwaan, berarti berpengaruh juga tehadap kemuan dan perbuatan. Maka gejala jiwa itu berpengaruh juga terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi.
1)      Kekuatan perasaan dapat diperkuat dan dapat diperlemah. Kemungkinan semacam itu memberikan kesempatan yang baik kepada usaha-usaha pendidikan.
2)      Pendidikan perasaan adalah sangat penting. Usahakanlah suasana dan rangsang-rangsang yang dapat membangun dan mengembangkan perasaan yang baik dan luhur, dan tiadakanlah keadaan yang merangsang timbulnya perasaan-perasaan rendah dan negative,
3)      Karena emosi mempunyai sifat menjalar/menular/merembet, maka jangan membawakan emosi-emosi yang negative dalam hubungannya dalam sesama, baik dalam pergaulan pendidikan maupun dalam pergaulan pada umumnya.




[1] Frieda, N.H. ( en ) “ Moods, Emotion Episodes and Emotion”, New York: Guilford Press,1993.hlm 381
[2] Alex Sobur, 1988. Psikologi Umum. Jlm 114-115
[3] Syarbaini Syahrial dan Rusdiyanta. 2009. Dasar-dasar Sosiologi. Hlm 25
[4] Syarbaini Syahrial dan Rusdiyanta. 2009. Dasar-dasar Sosiologi. Hlm 25

sosialisme


A.    Paradigma Sosialisme Komunis
Dalam faham sosialisme sejak semula terdapat sebuah kerancauan. Disatu fihak sosialisme merupakan sebuah cita-cita moral tinggi yang mutlak sifatnya, cita-cita tentang pola perekonomian yang non-eksploitatif, yang tidak ditentukan oleh kerakusan individual, melainkan oleh keprihatinan bersama, tentang sebuah masyarakat berlandaskan kesetiakawanan yang sejati.
Tetapi dilain fihak cita-cita itu dikaitkan pada sebuah konsep perekonomian empiris tertentu, perekonomian atas dasar penghapusan hakum milik pribadi terhadap alat-alat produksi. Sosialisme adalah kepercayaan bahwa sumber ketidaksamaan social terletak dalam hak milik pribadi produktif. Kombinasi dua unsure itu, cita-cita etis dan kepercayaan empiris ekonomis, menghasilkan utopi sosialisme, harapan akan masyarakat tanpa ekploitasi. Akan tetapi, suatau gerakan yang mengkaitkan cita-cita mutlak pada sebuah program politik empiris mudah menjadi ideologis.
Sebagai perimbangan terhadap kapitalisme sebagaimana telah disampaikan diatas, muncullah paham nasionalisme untuk mengantisipasi jurang pemisah antara sikaya dan si miskin ( perbedaan kelas ), caranya adalah dengan menyama –ratakan penghasilan perekonomian.
Oleh karena itu alat produksi dikuasai pemerintah atau sekelompok orang ( partai sosialis ) yang dikontrol pemerintah dengan peraturan ketat serta control keseragaman terhadap keberadaan upah dan penggajian. Namun kemudian kelakuan pengaturan muncul, siapa yang tidak bekerja tidak mendapat upah yang layak. Sebaliknya kenaikan upah tidak dapat dituntut, begitu juga perbaikan jaminan lainnya, bahkan lebih jauh sangat dicurigai kemungkinan demontrasi buruh dan pemogokan massal.
Dari keseluruhan paham sosialisme ini dapat disimpulkan antara lain sebagai berikut:
1.      semua orang adalah bersaudara
2.      pengaturan sama rata sama rasa
3.      perbedaan kelas kaya dan miskin dihapuskan
4.      kaum buru tani dikelola dalam partai sosialis

Komunisme merupakan tindak lanjut dari bentuk ekstrim sosialisme, yaitu untuk mengantisipasi persaingan bebas ekonomi antara kelas borjuis dengan kelas proletar ( rakyat banyak ), maka Karl Marx, mengemukakan antisipasinya melalui keadilan struktur social yang anti kelas sebagaai berikut:
1.      hak milik pribadi dihapuskan
2.      Negara memprogramkan nasib kaum proletar
3.      Negara dikuasai partai tunggal social komunis.
Pada tanggal 7 November 1917 kaum Bolshevik, dibantu oleh kelasi- kelasi Angkatan Laut dari kapal jelajah Aurora, mengusir pemerintahan Sementara dari istana Musim Dingin di Petrograd dan menempatkan sebuah pemerintahan Bolshevik didalamnya. Beberapa hari kemudian kaum Bolshevik juga merebut kekuasaan di Moskow.
Tahun 1989 melihat keambrukan mendadak dan tak tersangka kekuasaan komunisme Moskow atas Negara-negara di Eropa Timur. Satu demi satu rezim-rezim komunis di Polandia, Hongaria, Jerman Timur, Cekoslavia, Bulgaria, dan akhirnya Rumania digulingkan. Tahun 1990 melihat terdobraknya kekuasaan mutlak partai komunis di Uni Soviet. Pada bulan Februari tahun 1991, masa depan Uni soviet diliputi kegelapan , akan tetapi partai komunis tidak berkuasa kembali dan diperkirakan juga tidak mungkin, apa pun perkembangannya, mengembalikan situasi sebagaiman berlaku sebelum Mikhail Gorbashev menjadi sekretaris partai Komunis, bulan Maret 1985.
Salah satu  alasan keambrukan rezim-rezim komunis adalah kegagalan system ekonomi sosialis di Negara-negara seperti perpecahan antara RRC dan Uni Sovyet. Ekonomi perencanaan pusat sosialisme total disertai absensi segala control demokratis, menghasilkan inefiensi, salah urus, sikap acuh-tak acuh, kemalasan, kekosongan motivasi, hambatan-hambatan birokratis dan korupsi yang semakin melumpuhkan semua sector perekonomian.
Contoh paling mencolok kegagalan ekonomi sosialis adalah pertanian. Sebelum Perang Dunia I Rusia adalah gudang gandum Eropa. Sekarang Uni Sovyet tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya sendiri. Adalah menarik bahwa sekitar sepertiga seluruh produksi sayuran dan buah-buahan Uni Soviet diproduksi diatas bidang tanah amat kecil yang boleh ditanami secara bebas oleh setiap keluarga tani dan hasilnya dijual bebas di pasar.
Dan masih satu point. Tidak perlu disangkal bahwa Uni soviet ( dan Cina ) mencapai beberapa hasil pembangunan yang mengagumkan. Dalam waktu singkat Uni Soviet naik dari Negara yang terbelakang menjadi Negara adikuasa kedua didunia. Tetapi Uni soviet, dan komunisme pada umumnya, tidak berhasil  mewujudkan cita-cita yang justru menjadi legitimasi sosialisme dalam perbandingan dengan kapitalisme.mewujudkan kesejahteraan masyrakatnya.[1]
Oleh karena itu kami berpendapat bahwa komunisme Soviet memang pada akhir perjalanannya. Perubahan-perubahan diwilayah kekuasaan Soviet adalah Ireversibel. Komunisme Soviet keropos total. Tak mungkin ia menemukan kembali vitalitasnya.
Itu  berlaku bagi Negara-negara bekas satelit US. Sebuah intervensi militerpun tidak dapat mengembalikan system kekuasaan komunis di Negara-negara itu. Pengalaman Polandia menunjukkan hal itu. 1982 Partai Komunis Polandia terpaksa memanggil jendral jaruzelki untuk menindas Serikat Buruh Solidaritas karena partai sendiri sudah tidak mampu lagi. Tetapi jeruzelki tidak dapat mengembalikan kekuasaan partai komunis Polandia. Akhrnya tahun 1989 Jeruzelki sendiri terpaksa mengajak solidaritas ( yang waktu itu masih terlarang ) untuk mengambil alih tanggung jawab di Polandia.
Akan tetapi, di Uni Soviet pun roda sejarah tidak dapat diputar kembali. Empat tahun glasnost telah mendemitologisasikan segala pamor yang pernah dimiliki Marxisme Leninisme. Keterbukaan media massa Soviet membawa pesan sampai kedesa terakhir bahwa perekonomian soviet berada dipinggir keambrukan ( sesuatu yang sudah lama dirasakan masyarakat ), bahwa US terbelakang dibandingkan dengan Negara industri maju lain. Dan bahwa keterbelakangan itu adalah akibat system komunisme. Tidak mungkin ideology komunisme pernah dapat menjadi sebuah ideology harapan lagi bagi masyarakat soviet.
Obsesi Karl Marx melahirkan revolusi di berbagai belahan dunia, Lenin mendirikan pemerintahan komunis Rusia, beliau memang pengikut karl marx yang fanatic menerjemahkan komunis menjadi  politik praktis perekonomian. Kemudian stalin menjadikan partai komunis tertanacap kuat hampir tiga perempat abad di Negara adi kuasa Uni Sovyet. Sedangkan di Republic Rakyat Cina, Mao Tse Tung menyuburkan komunis di Negara ini.


[1] Magniz, Franz &Suseno.Filsafat umum. Jakarta: 1992,hlm 55,56

Kapitalisme


A.   Pengertian Perang Pemikiran Dan Ideologi
Istilah ideology bukanlah istilah yang asing. Istilah tersebut akrab dengan kehidupan  sehari-hari. Kita tahu bahwa yang dibicarakan adalah tentang gagasan. Tetapi, gagasan macam apakah ideology itu?
Ideologi sendiri diterjemahkan sebagai system pedoman hidup yang menjadi cita-cita untuk dicapai oleh sebagian besar individu dalam masyarakat yang bersifat khusus, disunsun secara sadar oleh para tokoh pemikir Negara serta kemudian menyebarluaskannya dengan resmi.
Fanatisme buta pemimpin pemerintahan suatu Negara yang mengikuti suatu ideology, sedikit banyak cenderung dipengaruhi oleh dua kutub besar tersebut di atas, yang pengaruhnya jelas terlihat pada sistem politik, pemerintah , ekonomi, hukum, administarasi dan social.

B.   Paradigma Liberalis Kapitalis
liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.  Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
Berangkat dari keinginan manusia untuk hidup bebas, maka pengawasan manusia atas manusia di kurangi, sehingga berbagai protes untuk menyuarakan hidup dan kehidupan dilontarkan, misalnya kebebasan berpendapat, bergaul, beragama, berpikir, menulis, mencari nafkah, berkumpul dan mengaktualisasikan diri.
Penertiban dan peraturan oleh kelompok liberalis dianggap cenderung sentralis dan kurang manusiawi, tidak menghargai demokratisasi dan hak asasi manusia, lebih jauh mereka menuntut :
1.                  Mengumpulkan kekayaan secara terbatas
2.                  persaingan bebas dalam politik
3.                  pasar bebas dalam perdagangan
4.                  kehidupan yang bebas dalam pergaulan
5.                  pemerintahan yang bebas
 Pokok-pokok liberalisme
Ada tiga hal yang mendasar dari ideologi liberalisme yakni Kehidupan, Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property). Dibawah ini, adalah nilai-nilai pokok yang bersumber dari tiga nilai dasar liberalisme tadi:
·      Percaya bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta (Trust in God as a Creator) . Semua manusia diciptakan sama, bahwa mereka dianugerahi oleh Tuhan Penciptanya hak-hak tertentu yang tidak dapat dipisahkan dari padanya.
·      Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being). Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.
·      Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan dan kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.( Treat the Others Reason Equally.)
·      Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.(Government by the Consent of The People or The Governed)
·      Berjalannya hukum (The Rule of Law). Fungsi Negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat. Terhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan terhadap hukum tertinggi (Undang-undang ), persamaan dimuka umum, dan persamaan sosial.
·      Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu.(The Emphasis of Individual)
·      Negara hanyalah alat (The State is Instrument). Negara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri.  Di dalam ajaran Liberal Klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah saja ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.
·      Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogmatism).  Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah.

Prinsip-prinsip kaum fundamentalis kaum liberal semakin dikembangkan kaum kapitalis, karena mereka adalah pemilik modal dalam jumlah besar ( konglomerat ) maka dimungkinkan untuk mencari keuntungan tanpa batas, yaitu mengadakan produksi yang menguasai alat produksi masyarakat, misalnya :
1.      menumpuk barang dan jasa
2.      pemilikan modal untuk segala jenis paerdagangan
3.      produksi besar – besaran dengan mesin modern
4.      eksploitasi tenaga manusia dan sumber alam

Sedangkan, pemikiran kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang filsafat social dan politiknya didasarkan kepada azas pengembangan hak milik pribadi dan pemeliharaannya serta perluasan faham kebebasan. Sistem ini telah banyak melahirkan malapetaka terhadap dunia. Tetapi ia terus melakukan tekanan-tekanannya dan campur tangan politis social dan kultural terhadap bangsa-bangsa di dunia.

 Sejarah Berdiri Kapitalisme
Eropa pernah diperintah kerajaan Romawi yang telah mewariskan system feodalistik. Dalam rentang waktu antara abad ke-14 sampai abad ke-16 muncul apa yang disebut kelas bourgeois mengiring tahap feodal dimana keduanya saling mengisi.
Kemudian sejak awal abad ke-16 secara bertahap fase borjuis disusul dengan fase kapitalis. Maka pertama kali muncul ialah seruan kebebasan menyusul seruan-seruan nasionalisme sekuler dan penciutan dominasi spiritual paus.
Diperancis kemudian muncul aliran bebas pada pertengahan abad ke-18 yang melahirkan kaum naturalis.
 Akar Pemikiran Dan Keyakinannya
Akar kapitalisme dalam beberapa hal bersumber dari fisafat Romawi Kuno. Hal itu muncul pada ambisinya untuk memiliki kekuatan dan meluaskan pengaruh serta kekuasaan.
kapitalisme berkembang secara bertahap dari feodalisme bourgeoisme sampai kepada kapitalisme. Selama proses itu berlangsung telah berkembang berbagai pemikiran dan idiologi yang melanda dalam arus yang mengarah kepada pengukuhan hak milik pribadi dan seruan kebebasan.Pada dasarnya kapitalisme tegak di atas pemikiran aliran bebas dan aliran klasik.
Kapitalisme pada dasarnya memerangi agama. Pada mulanya bersifat pembangkangan. Terhadap kekuasaan gereja. Akhirnya membangkang tiap peraturan yang mengandung moral.
Kapitalisme tidak mementingkan peraturan bermoral kecuali menimbulkan manfaat pada dirinya khususnya dari segi ekonomi.
Pemikiran dan pandangan yang muncul akibat revolusi industri di Eropa berperan menonjol dalam membatasi gejala-gejala kapitalisme.
Kapitalisme menyeru dan membela liberalisme Tetapi kebebasan politik telah berubah menjadi kebabasan moral dan sosial. Selanjutnya berubah menjadi permisifisme.

 Prinsip-prinsip Kapitalisme
·                     Mencari keuntungan dengan berbagai cara dan sarana kecuali yang terang-terangan dilarang negara karena merusak masyarakat seperti heroin dan semacamnya.
·                     Mendewakan hak milik pribadi dgn membuka jalan selebar-lebarnya agar tiap orang mengerahkan kemampuan dan potensi yang ada untuk meningkatkan kekayaan dan memeliharanya serta tidak ada yang menjahatinya. Karena itu dibuatlah peraturan-peraturan yang cocok untuk meningkatkan dan  melancarkan usaha dan tidak ada campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi kecuali dalam batas-batas yang sangat diperlukan oleh peraturan umum dalam rangka mengokohkan keamanan.
·                     Perfect Competition .
·                     Price system sesuai dengan tuntutan permintaan dan kebutuhan dan bersandar pada peraturan harga yang diturunkan dalam rangka mengendalikan komoditas dan penjualannya.
e ) Bentuk Kapitalisme
·         Kapitalisme perdagangan yang muncul pada abad ke-16 setelah        dihapusnya sistem feodal. Dalam sistem ini seorang pengusaha mengangkat hasil produksinya dari satu tempat ke tempat lain sesuai degan kebutuhan pasar. Dengan demikian ia berfungsi sebagai perantara antara produsen dan konsumen.
·          Kapitalisme industri yang lahir karena ditopang oleh kemajuan industri dgn penemuan mesin uap oleh James Watt tahun 1765 dan mesin tenun tahun 1733. Semua itu telah membangkitkan revolusi industri di Inggris dan Eropa menjelang abad ke-19.Kapitalisme industri ini tegak di atas dasar pemisahan antara modal dan buruh yakni antara manusia dan mesin.
·                     Sistem Kartel yaitu kesepakatan perusahaan-perusahaan besar dalam membagi pasaran internasional. Sistem ini memberi kesempatan untuk memonopoli pasar dan pemerasan seluas-luasnya. Aliran ini tersebar di Jerman dan Jepang.
·                     Sistem Trust yaitu sebuah sistem yang membentuk satu perusahaan dari berbagai perusahaan yang bersaing agar perusahaan tersebut lebih mampu berproduksi dan lebih kuat untuk mengontrol dan menguasai pasar.
Pemikiran dan Keyakinan-keyakinan lainnya Aliran naturalisme yang merupakan dasar kapitalisme  ini sebenarnya menyerukan hal-hal sebagai berikut :
·                     Kehidupan ekonomi yang tunduk kepada sistem natur yang bukan buatan manusia. Dengan sifat seperti itu akan mampu mewujudkan pengembangan hidup dan kemajuan secara simultan.
·                     Tidak ada campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi dan membatasi tugasnya hanya untuk melindungi pribadi-pribadi dan kekayaan serta menjaga keamanan dan membela negara.
·                     Kebebasan ekonomi bagi tiap individu di mana ia mempunyai hak untuk menekuni dan memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemauannya. Tentang kebebasan seperti ini diungkapkan dalam sebuah prinsip yang sangat masyur dengan semboyan “Biarkan ia bekerja dan biarkan ia berlalu.”
·                     Kepercayaan kapitalisme terhadap kebebasan yang tiada batas telah membawa kekacauan keyakinan dan perilaku. Ini melahirkan berbagai konflik di Barat yang kemudian melanda dunia sebagai akibat dari kehampaan pemikiran dan kekosongan ruhani.
·                     Rendahnya upah dan tuntutan yang tinggi mendorong tiap anggota keluarga bekerja. Akibatnya tali kekeluargaan putus dan sendi-sendi sosial di kalangan mereka runtuh.

 Segi-segi Negatif Kapitalisme
·                     Sitem buatan manusia.Sekelompok kecil pribadi mendominasi pasar untuk mencapai kepentingan sendiri tanpa menghargai kebutuhan masyarakat dan menghormati kepentingan umum.
·                     Egoistik.Dalam system  kapitalisme individu dan sekelompok kecil pribadi mendominasi pasar untuk mencapai kepentingan sendiri tanpa menghargai kebutuhan masyarakat dan menghormati kepentingan umum.
·                     Monopolostik.Dalam system kapitalisme seorang kapitalis memonopoli komoditas dan menimbunnya. Apabila barang tersebut habis di pasar ia mengeluarkannya untuk dijual dengan harga mahal yang berlipat ganda mencekik konsumen dan orang-orang lemah.  
·                     Terlalu berpihak kepada hak milik pribadi. Kapitalisme terlalu mengagungkan hak milik pribadi. Sedangkan komunisme malah menghilangkan hak milik pribadi.
·                     Persaingan.Sistem dasar kapitalisme membuat kehidupan menjadi arena perlombaan harga. Semua orang berlomba mencari kemenangan. Sehingga kehidupan dalam system kapitalisme berubah menjadi riba di mana yang kuat menerkam yang lemah. Hal ini sering menimbulkan kebangkrutan pabrik atau perusahaan tertentu.
·                     Perampasan tenaga produktif. kapitalisme membuat para tenaga kerja sebagai barang komoditas yg harus tunduk kepada hukum permintaan dan kebutuhan yang menjadikan dia sebagai barang yang dapat ditawarkan tiap saat. Pekerja ini bisa jadi sewaktu-waktu diganti dgn orang lain yang upahnya lebih rendah dan mampu bekerja lebih banyak dan pengabdiannya lbh baik.
·                     Pengangguran.Suatu fenomena umum dalam masyarakat kapitalis ialah munculnya pengangguran yang mendorong pemilik perusahaan untuk menambah tenaga yang akan memberatkannya.
·                     Kehidupan yg penuh gejolak.Ini adalah akibat logis dari persaingan yang berlangsung antara dua kelas. Yang satu mementingkan pengumpulan uang dengan segala cara. Sedangkan yang satu lagi tidak diberi kesempatan mencari sendiri kebutuhan pokok hidupnya tanpa kenal belas kasihan.
·                     Penjajahan.Karena didorong mencari bahan baku dan mencari pasar baru untuk memasarkan hasil produksinya kapitalisme memasuki petualangan penjajahan terhadap semua bangsa. Pada mulanya dalam bentuk penjajahan ekonomi pola pikir politik dan kebudayaan. Kemudian memperbudak semua bangsa dan mengeksploitasi tenaga-tenaga produktif demi kepentingan penjajahan.
·                     Peperangan dan malapetaka.Ummat manusia telah menyaksikan berbagai bentuk pembunuhan dan pembantaian luar biasa biadabnya. Itu terjadi sebagai akibat logis dari sebuah penjajahan yang menimpa umat manusia di bumi yang melahirkan bencana paling keji dan  kejam.
·                     Didominasi hawa nafsu.Orang kapitalisme berpegang kepada prinsip demokrasi politik dan pemerintahan. Pada umumnya demokrasi yang mereka gembar-gemborkan dibarengi dgn hawa nafsu yang mendominasi dan jauh dari kebenaran dan keadilan.
·                     Riba.Sistem kapitalisme tegak di atas landasan riba. Sedangkan riba merupakan akar penyakit yang membuat seluruh dunia menderita.
·                     Tidak bermoral. kapitalisme memandang manusia sebagai benda materi. Karena itu manusia dijauhkan dari kecenderungan ruhani dan akhlaknya. Bahkan dalam system kapitalisme antara ekonomi dan moral dipisahkan jauh-jauh.
·                     Kejam. Kapitalisme  sering memusnahkan begitu saja komoditas yang lebih dgn cara dibakar atau dibuang ke laut karena khawatir harga akan jatuh disebabkan banyaknya penawaran. Mereka berani melakukan itu padahal masih banyak bangsa-bangsa yang menjerit kelaparan.
·                     Boros.Orang-orang kapitalisme memproduksi barang-barang mewah disertai iklan besar-besaran tanpa peduli kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Sebab yang mereka cari keuntungan belaka.
·                     Tidak berperikemanusiaan.Orang kapitalis sering mengusir begitu saja seorang buruh karena alasan tenaganya kurang produktif. Tetapi kekejaman ini mulai diperingan akhir-akhir ini dengakn adanya perbaikan dalam tubuh kapitalisme.

Kapitalisme dan Kebebasan Tatanan ekonomi memainkan peranan rangkap dalam memajukan masyarakat yang bebas. Di satu pihak, kebebasan dalam tatanan ekonomi itu sendiri merupakan komponen dari kebebasan dalam arti luas ; jadi, kebebasan di bidang ekonomi itu sendiri menjadi tujuan. Di pihak lain, kebebasan di bidang ekonomi adalah juga cara yang sangat  diperlukan untuk mencapai kebebasan politik. Pada dasarnya, hanya ada dua cara untuk mengkoordinasikan aktivitas jutaan orang di bidang ekonomi.
Cara pertama ialah bimbingan terpusat yang melibatkan penggunaan paksaan – tekniknya tentara dan Negara - negara totaliter yang modern. Cara lain adalah kerjasama individual secara sukarela – tekniknya sebuah sistem pasaran. Selama kebebasan untuk mengadakan sistem transaksi dipertahankan secara efektif, maka ciri pokok dari usaha untuk mengatur aktivitas ekonomi melalui sistem pasaran adalah bahwa ia mencegah campur tangan seseorang terhadap orang lain. Jadi terbukti bahwa kapitalisme adalah salah satu perwujudan dari kerangka pemikiran liberal.