Jumat, 11 Mei 2012

Metode Penelitian Kualitatif : Grounded Theory


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Grounded Theory merupakan sebuah pendekatan riset. Titik berat ground theory adalah pada pendekatan kualitatif. Penelitian Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis yang diarahkan untuk mengembangkan teori berorientasi tindakan,interaksi, atau proses dengan berlandaskan data yang diperoleh dari kancah penelitian. Grounded Theory memang jarang digunakan, tetapi merupakan pendekatan riset yang potensial untuk disiplin ilmu hubungan masyarakat.
Metode ini berkembang pesat dan telah digunakan dalam berbagai disiplin ilmu. Makalah ini membahas konsep-konsep pokok tentang Penelitian Grounded Theory, yang diawali dengan mengemukakan latar belakang, perkembangan dan pengertian tentang penelitian Grounded Theory. Setelah itu, pembahasan dilanjutkan dengan pemaparan tentang ciri-ciri atau karakteristik pokok metode Grounded Theory  kelemahan menggunakan pendekatan Grounded Theory. Pembahasan ditutup dengan menarik beberapa kesimpulan yang didasarkan pada pemaparan pada bagian-bagian sebelumnya.
B.   Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana pengertian dan Latar belakang perkembangan Grounded Theory ?
2.      Apa ciri-ciri Pokok metode Grounded Theory ?
3.      Apa kelemahan metode Grounded Theory ?


C.   Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah Grounded Theory adalah sebagai berikut :
1.      Untuk memahami dan mengetahui pengertian serta latar belakang perkembangan Grounded Theory.
2.      Untuk mengetahui ciri-ciri pokok metode Grounded theory
3.      Untuk mengetahui kelemahan metode Grounded theory.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Sejarah Grounded Theory
Sebagai sebuah pendekatan riset, grounded theory memiliki posisi yang sama dengan beberapa orientasi lain, seperti studi kasus. Grounded Theory adalah sebuah pendekatan yang refleksif dan terbuka, di mana pengumpulan data, pengembangan data, pengembangan konsep teorities, dan ulasan literature berlangsung dalam proses siklis- berkelanjutan.[1]
Penggunaan hukum kausalitas sebagai dasar penyusunan teori. Seperti diketahui, bahwa dalam epistemologi ilmiah, prinsip kausalitas adalah salah asumsi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, karena sangat diyakini bahwa segala hal yang terjadi di alam ini tidak lepas dari hukum sebab-akibat.
Penelitian ini adalah versi lain dari penelitian kualitatif. Grounded Theory ini merupakan reaksi yang tajam dan sekaligus member jalan keluar dari “ stagnasi teori” dalam ilmu-ilmu social, dengan menitik beratkan sosiologi.[2]
Disiplin ilmu yang mempengaruhi Grounded Theory adalah sosiologi, terutama madzab interaksionisme simbolik. Interaksionisme simbolik berfokus pada interaksi antar manusia. metode ini dapat dan telah digunakan dengan baik di berbagai disiplin ilmu, seperti pendidikan, keperawatan, ilmu politik, dan psikologi. Khusus di bidang pendidikan.
Menurut penggagasnya yaitu Barney Galser dan Anselm Strauss, Grounded theory tertulis sebagai . . . . .the discovery of theory from data which we call grounded theory . . . .. ajaran utama pendekatan ini adalah, bahwa teori harus muncul dari data atau dengan kata lain, teori harus berasal ( grounded ) dalam data.
Ungkapan grounded theory merujuk pada teori yang dibangun secara induktif dari satu kumpulan data bila dilakukan dengan baik. Maka teori yang dihasilkan akan sangat sesuai dengan kumpulan data tadi.[3]
Pendekatan grounded theory memungkinkah peneliti melakukan riset prosessual, yaitu riset yang berfokus pada “ rangkaian peristiwa, tindakan, dan aktivitas individual maupun kolektif yang berkembang dari waktu ke waktu dalam konteks tertentu.
Grounded theory berguna dalam situasi-situasi ketika sedikit sekali yang diketahui tentang topic atau fenomena tertentu, atau ketika diperlukan pendekatan baru untuk latar-latar yang sudah dikenal. Pada umumnya, tujuan grounded theory adalah membangun teori baru, walaupun sering juga digunakan untuk memperluas atau memodifikasi teori yang ada. Sebagai contoh, peneliti bisa mengembangkan grounded theory peneliti sendiri, atau grounded peneliti lain. dengan meninjau kembali data yang sama dengan pertanyaan dan interprestasi yang berbeda.[4]
Penelitian grounded pada dasarnya sama dengan penelitian eksplanatif. Penelitian grounded dilakukan dengan terjun ke kancah untuk meneliti sekian banyak aspek ( variable ) penelitian untuk menemukan, untuk memunculkan teori. Peneliti dating ke lapangan “ tanpa berbekal “ teori ( hipotesis ). Hipotesis ( kalau ada ) baru nanti di lapangan itu sendiri dimunculkan, lalu diuji. Nampaknya penelitian grounded akan banyak mempergunakan metode survey dan metode observasi. Karena karakteristiknya sama dengan penelitian Eksploratif.[5]
Survai merupakan pendekatan kuantitatif , sedangkan titik berat grounded research adalah pada pendekatan kualitatif. Data terutama dikumpulkan melalui wawancara bebas seperti yang dikemukakan oleh Glaser dan strauss ( 1967 ), grounded research merupakan reaksi yang tajam dan sekaligus menyajikan jalan keluar dari  “ stagnasi teori “ dalam ilmu-ilmu sosial, dengan penitikberatan pada sosiologi. Kritik dilontarkan baik  kepada pendekatan yang kuantitatif maupun kualitatif yang selama ini dilakukan.
Kedua pengarang tersebut mengkritik keterikatan peneliti yang berlebihan terhadap teori-teori yang sangat umum ( grand theories ) dari tokoh-tokoh besar seperti Weber, Persons, Veblen, Cooley dan lain-lain. Ini menjurus kepada studi verivikasi yang bermunculan seperti Jamur dimusim hujan, yakni verivikasi dan teori-teori tersebut melalui pendekatan kuantitatif dan tes statistik. hasil akhir dari penelitian merupakan verifikasi dari teori atau hipotesa, untuk diterima atau di tolak.
Grounded research menyajikan suatu pendekatan yang baru data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data, dan karena itu dinamakan grounded. Kategori-kategori dan konsep-konsep dikembangkan oleh peneliti di lapangan. Data yang bertambah dimanfaatkan untuk verivikasi teori yang timbul di lapangan yang tersu menerus disempurnakan selama penelitian berlangsung.[6]
Pelaksanaan penelitian Grounded bertolak belakang dengan layaknya penelitian pada umumnya kalau penelitian umumnya diawali dengan desain tertentu, namun grounded theory tidak demikian. Peneliti langsung kelapangan, semuanya dilaksanakan dilapangan. Rumusan masalah ditemukan dilapangan, hipotesis senantiasa jatuh bangun ditempa data. Data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data,s ehingga teori juga lahir dan berkembang dilapangan.
Kredibelitas penelitian grounded merupakan pertimbangan utama dalam penggunaan metodologi ini, kalau kredibilitas peneliti rendah, mungkin akan merusak penelitian yang membutuhkan “ keterbukaan “ mata, telinga serta intuisi responsive. Implementasi metodologi ini memang amat sukar terutama oleh peneliti pemula, karenanya perlu latihan-latihan tertentu dalam waktu yang lama.[7]
Dari pemaparan mengenai pengertian dan tujuan dari grounded theory, pembahasan selanjutnya adalah tentang sejarah Grounded Theory beserta perkembangannya.
1.      Sejarah grounded Theory
Penelitian Grounded Theory dikembangkan pertama kali pada tahun 1960-an oleh dua ahli sosiologi, Barney Glaser and Anselm Strauss, berdasarkan penelitian yang mereka lakukan pada pasien-pasien berpenyakit akut di Rumah Sakit Universitas California, San francisco. [8]
Glaser dari Universitas Columbia yang desertasinya doktornya ( 1961 ) tentang karir professional para ilmuan. Penelitian untuk desertasinya ini menggunakan pendekatan kualitatif  terhadap data sekunder. Gleser sangat terpengaruh oleh pola kerja pikiran induktif ( baik kualitatif maupun kuantitatif ) yang dikembangkan oleh Paul Lazarsfeld ( 1901-1976 ) dan koleganya. Desertasi Gleser dahulu di bombing oleh Robert K. Merton ( 1910-1983 ) yang menjadi murid Talcott Persons. Setelah lulus program doktornya, Gleser bergabung dengan university of California Medical Center di San Fransisco, tempat ia kemudian bertemu dengan Anselm L. Strauss ( sosiolog ) yang menyelesaikan program doktornya ( 1945 ) di University of Cicago. Strauss cenderung untuk berkonsentrasi dalam menentukan prosedur dalam mengaplikasikan pendekatan. Sedangkan Gleser menentang perubahan apapun dari gagasan awalnya. Dua versi grounded theory kemudian muncul, straussian dan glaserian.[9]
Catatan-catatan dan metode penelitian yang digunakan dipublikasikan dan menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya. Sebagai respon, Glaser dan Strauss menerbitkan The Discovery of Grounded Theory (1967), buku yang menjelaskan prosedur metode Grounded Theory secara terperinci. Hingga saat ini, buku ini diterima sebagai peletetak konsep-konsep mendasar Grounded Theory.
2.      Proses Perkembangan Grounded theory
Perubahan yang terjadi di kalangan peneliti social, menjadikan perubahan pula pada aspek pemanfaatan metode grounded theory. [10]Seperti:
a.       Kombinasi metode grounded theory dengan metode lain, maka akan menghasilkan ragam-ragam model grounded theory dalam berbagai pokok masalah dan disiplin ilmu pengetahuan.
b.      Prosedur yang digunakan dalam metode mungkin akan lebih dielaborasi. Posedur ini akan disesuaikan dengan substansi kajian yang terus menerus akan dikembangkan.
c.       Berbagai teori atau interpretasi akan terus dikembangkan oleh ilmuan yang berbeda dari disiplin yang berbeda pula.
d.      Aplikasi computer akan lebih banyak digunakan, terutama untuk membuat matriks, pembobotan masalah dan kategorisasi yang diperoleh dilapangan.
B.     Ciri-Ciri atau Karakteristik Metode Grounded Theory
Menurut Creswell (2008: 440), enam karakteristik berikut merupakan elemen-elemen yang terdapat dalam berbagai pendekatan Grounded Theory, termasuk desain sistematik, 'emerging' dan 'kostruktivis'.
1.      Pendekatan Proses
Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa setiap fenomena sosial merupakan hasil proses tindakan atau interaksi antar individu. Dalam penelitian Grounded Theory, proses merujuk pada urutan tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia dan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan sebuah topik, seperti pengalihbahsaan novel Animal Farm ke dalam bahasa Indonesia. Dalam topik seperti ini, berdasarkan transkrip wawancara atau catatan pengamatan yang dilakukan pada partisipan, peneliti Grounded Theory dapat mengidentifikasi dan mengisolasi tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia, aspek-aspek yang diisolasi ini disebut kategori-kategori, yang digunakan sebagai tema-tema informasi dasar dalam rangka memahami suatu proses.
Guna menerapkan pendekatan Grounded Theory dengan baik, Glaser dan Strauss ( 1967 ) menekankan bahwa peneliti harus fleksibel. Mendekati studi dengan pikiran terbuka, dan tidak membuat asumsi sebelum riset di mulai. Dengan memilih pendekatan Grounded Theory , peneliti memilih untuk beroperasi sebagai penafsir data, bukan sekedar reporter ( pelapor ) atau orang yang menguraikan sebuah situasi. Dalam hal ini peneliti harus terus menerus mencari hubungan antar konsep untuk menghasilkan pola dan jaringan, yang lantas peneliti gunakan untuk mengembangkan teori-teori atau setidaknya gagasan teoritis.[11]
2.      Sampling Teoritis
Dalam Grounded theory, digunakan “ sampling teorities”. Penarikan sampel jenis ini berpedoman pada gagasan –gagasan yang signifikan bagi teori yang muncul.
Pada awal riset, peneliti membuat keputusan penarikan sampel hanya untuk langkah awal saja. Pilih latar atau fenomena yang  ingin diteliti, pilih sekelompok orang atau individu tertentu yang bisa memberikan informasi mengenai topic yang diteliti. Begitu riset diawali, peneliti mulai menganalisis data awal, konsep baru akan muncul, kemudian peneliti bisa menerapkannya pada sampel yang berbeda situasi, latar atau individu. Lantas berfokus pad aide baru guna memperluas teori yang muncul. Penarikan sampel teoritis dilanjutkan hingga mencapai titik jenuh, yaitu ketika tidak ada lagi informasi baru ( dalam data ) yang relevan dengan riset.[12]
Sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, instrumen pengumpul data penelitian Grounded Theory adalah peneliti sendiri. Data-data yang dikumpulkan dapat berbentuk transkrip wawancara, percakapan, catatan wawancara, dokumen-dokumen publik, buku harian dan jurnal responden, dan catatan reflektif peneliti.[13]
Proses pengumpulan data itu dilaksaakan dengan mengunakan dua metode secara simultan, yaitu observasi dan wawancara mendalam (depth interview). Bentuk data yang paling sering digunakan berbagai peneliti adalah hasil wawancara karena data seperti ini lebih mampumengungkapkan pengalaman responden dalam kata-kata mereka sendiri.
Dalam Grounded Theory, masalah sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyampelan teoritik, yaitu penyampelan yang dilakukan .Dengan kata lain, penyampelan teoritik merupakan pengambilan sampel yang dilakukan peneliti dengan cara memilih data-data atau konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian.
Berkenaan dengan proposisi terakhir, pada hakikatnya fenomena yang telah terpilih itulah yang dicari atau digali oleh peneliti selama mengumpulkan data. Karena fenomena itu melekat dengan subyek yang diteliti, maka jumlah subyek pun terus bertambah sampai tidak ditemukan lagi informasi baru yang diungkap oleh beberapa subyek yang terakhir. Itulah sebabnya, penentuan sampel subyek dalam penelitian Grounded Theory, seperti halnya penelitian kualitatif pada umumnya, tidak dapat direncanakan dari awal. Subyek-subyek yang diteliti secara berproses ditentukan di lapangan, kaetika pengumpulan data berlangsung. Cara penyampelan inilah yang disebut dalam penelitian kualitatif sebagai snow bowl sampling.
Sesuai dengan tahap pengkodean dan analisis data, penyampelan dalam Grounded Theory  diarahkan dengan logika dan tujuan dari tiga jenis dasar prosedur pengkodean. Ada tiga pola penyampelan teoritik, yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan pengumpulan data. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang ketiga penyampelan tersebut.
a)    Penyampelan terbuka bertujuan untuk menemukan data sebanyak mungkin sepanjang berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat pada awal penelitian. Karena pada tahap awal itu peneliti belum yakin tentang konsep mana yang relevan secara teoritik, maka obyek pengamatan dan orang-orang yang diwawncarai juga masih belum dibatasi. Data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data awal inilah kemudian dianalisis dengan pengkodean terbuka.
b)   Penyampelan relasional dan variasional berfokus pada pengungkapan dan pembuktian hubungan-hubungan antara kategori dengan kategori dan kategori dengan sub-subkategorinya. Pada kedua penyampelan ini diupayakan untuk menemukan sebanyak mungkin perbedaan tingkat ukuran di dalam data. Hal pokok yang perlu pada penemuan perbedaan tingkat ukuran tersebut adalah proses dan variasi. Jadi, inti utama penyampelan di sini adalah memilih subyek, lokasi, atau dokumen yang memaksimalkan peluang untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variasi ukuran kategori dan data yang bertalian dengan perubahan.
c)     Penyampelan pembeda berkaitan dengan kegiatan pengkodean terpilih. Oleh karena itu tujuan penyampelan pembeda adalah menetapkan subyek yang diduga dapat memberi peluang bagi peneliti untuk membuktikan atau menguji hubungan antarkategori.
Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian Grounded Theory  berlangsung secara bertahap dan dalam rentang waktu yang relatif lama. Proses pengambilan sampel juga berlangsung secara terus menerus ketika kegiatan pengumpulan data. Jumlah sampel bisa terus bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah data yang dibutuhkan.
Berdasarkan paparan tentang prinsip penyampelan di atas, jelaslah bahwa pengambilan kesimpulan dalam penelitian Grounded Theory tidak didasarkan pada generalisasi, melainkan pada spesifikasi. Bertolak dari pola penalaran ini, penelitian Grounded Theory bermaksud untuk membuat spesifikasi-spesifikasi terhadap (a) kondisi yang menjadi sebab munculnya fenomena, (b) tindakan/interaksi yang merupakan respon terhadap kondisi itu, (c) serta konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari tindakan/i nteraksi itu. Jadi, rumusan teoritik sebagai hasil akhir yang ditemukan dari jenis penelitian ini tidak menjustfikasi keberlakuannya untuk semua populasi, seperti dalam penelitian kuantitatif, melainkan hanya untuk situasi atau kondisi tersebut.
3.      Analisis Data dan Melakukan Koding
Analisis data berlangsung selama riset berproses, mulai wawncara awal hingga berakhir pada pengamatan. Analisis terdiri dari koding ( coding ) dan kategorisasi ( categorizing ). Koding dilakukan terlebih dahulu pada permulaan riset. Koding memungkinkan peneliti mengubah data, dan menguraikannya untuk membangun kategori seiring dengan munculnya kategori utama, maka teori akan berkembang.
Koding dalam grounded theory adalah proses pengidentifikasian dan penamaan tema atau konsep dalam tahapan analisis. Dalam hal ini, data dikodekan menjadi kategori.
Proses koding mencakup tiga langkah,[14] yaitu:
a)      Open coding atau koding terbuka peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa  atau fenomena yang dipelajari.
b)      Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
c)         Selective coding, peneliti ( pemilihan kategori inti dan menghubungkannya dengan kategori lain )
Sepanjang kajian berlangsung, masing-masing bagian data dibandingkan dengan bagian lain ketika peneliti mencari persamaan, perbedaan, dan koneksi atau hubungan-hubungan. Hal inilah yang disebut dengan perbandingan konstan. [15]
4.      Kategori Inti
Dari seluruh kategori utama yang diperoleh dari data, peneliti memilih satu kategori sebagai inti fenomena dalam rangka merumuskan teori. Setelah mengidentifikasi beberapa kategori (misalnya, 8 hingga 10—tergantung pada besarnya database), peneliti memilih satu kategori inti sebagai basis penulisan teori . Berikut ini adalah enam kriteria untuk menentukan kategori inti (Strauss and Corbin, dalam Creswell, 2008: 444).
(a)           Kategori tersebut harus merupakan sentral, dalam artian kategori-kategori utama lainnya dapat dihbungkan padanya.
(b)           Kategori tersebut sering muncul dalam data, dengan pengertian bahwa dalam semua kasus terdapat indikator-indikator yang merujuk pada kategori inti tersebut.
(c)            Penjelasan-penjelasan yang menghubungkan kategori-kategori bersifat logis, konsisten dan tidak dipaksakan.
(d)          Istilah atau frasa yang digunakan untuk menjelaskan kategori inti harus abstrak.
(e)           Seiring dengan penyempurnaan konsep, teori berkembang dalam aspek kedalaman dan kemampuan menjelaskan.Meskipun kondisi bervariasi, kategori inti masih mampu menjelaskan seara akurat.
Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa memilih kategori inti terlalu awal adalah sangat riskan. Akan tetapi, bila terlihat bahwa salah satu kategori mucul dengan frekuensi tinggi dan terhubung dengan jelas pada kategori-kategori lain, kategori itu dapat dipilih sebagai kategori inti.
5.      Perumusan Teori
Agar kredibel, sebuah teori harus memiliki “ kekuatan penjelasan ( explanatory power )”, dengan keterkaitan antarkategori, serta kekhususan, kategori berhubungan satu sam lain dan berkaitan erat dengan data.
Dalam penelitian Grounded Theory, yang dimaksud dengan teori adalah penjelasan atau pemahaman yang abstrak tentang suatu proses mengenai sebuah topik substantif yang didasarkan pada data.
Ada dua jenis teori yang dihasilkan dalam grounded research, yaitu teori substantive dan teori formal.[16]
a.    Teori substantive muncul dari kajian terhadap kondidi social yang nyata seperti menejemen hubungan konsumen, praktik professional, hubungan gender, kepemimpinan, atau komunikasi internet. Karena teori ini menyajikan hubungan yang mendekati realitas empirisnya, maka teori ini sangat berguna bagi para peneliti diarena bisnis atau professional.
b.    Teori formal dikembangkan dari teori substantive. Teori ini dihasilakn dari berbagai situasi dan latar yang berbeda-beda, bersifat konseptual dan memiliki generalitas yang tinggi.
Cara untuk menghasilkan teori dengan metode grounded theory terdiri dari lima fase yang harus diikuti:[17] 1). Desain penelitian, 2) pengumpulan data, 3) penyusunan data, 4) analisis data dan 5) pembanding dengan literature.
Dari lima fase diatas, ada 9 langkah yang harus diikuti, meliputi :
1.      Tinjauan ulang literature teknisi
2.      Memilih kasus
3.      Membuat protocol pengumpulan data yang akurat
4.      Masuk ke lapangan
5.      Penyusunan data
6.      Menganalisis data
7.      Percontohan teoritis
8.      Mencapai akhir penelitian
9.      Pembandingan teori yang muncul dengan literature yang telah ada.
6. Penulisan Memo
Dalam penelitian Grounded Theory, memo merupakan catatan-catatan yang dibuat peneliti untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-kategori yang dikodekan. Dengan kata lain, memo merupakan catatan yang dibuat peneliti bagi dirinya sendiri dalam rangka menyusun hipotesis tentang sebuah kategori, kususnya tentang hubungan-hubungan antara kategori-kategori yang ditemukan.
Menulis memo yang menjelaskan dan mengulas  kode-kode dan kategori-kategori analisis yang anda dapatkan dari proses analisis data, juga sangat berguna. Memo sangat membantu peneliti untuk melacak pola-pola dalam data dan mengidentifikasikan beragam tema yang muncul.[18]
C.    Kelemahan dan Kelebihan Grounded Theory
Berbagai kegiatan penelitian telah dilakukan dengan pendekatan grounded theory di berbagai disiplin ilmu telah dilakukan. Salah satunya adalah” Use of computer based qualitative data Analysis ( QDA ) software in Grounded Research Methodology”. ( pandit,1996 ). Dari penjelasan para peneliti yang terlibat, terkesan bahwa penggunaan metode grounded theory terlalu memakan waktu yang lama. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan metodologinya yang mengharuskan para peneliti untuk bersikap sangat teliti, dan rajin.[19]
Kualitas grounded theory seperti pada penelitian lain, selain ditentukan validitas, reliabilitas dan kredibilitas dari data, juga ditentukan oleh proses penelitian di mana teori dihasilkan serta beralasan empiris dari temuan atau teori yang dihasilkan.
Proses grounded theory selama ini dituduh kelewat kompleks dan membingungkan. Banyak orang yang kesulitan mempraktikkannya, kecuali dalam kondisi yang longgar, tidak kaku, tidak terlalu dispesifikasi “.[20]
Ada tiga aspek yang membedakan Grounded Theory dengan pendekatan penelitian yang lain adalah sebagai berikut :
1.      Peneliti mengikuti prosedur analisis sistematik dalam sebagian besar pendekatan. Grounded theory lebih terstruktur dalam prosese pengumpulan data dan analisisnya, disbanding model riset kualitatif lain. meski strateginya sama ( misalnya analisis tematik terhadap transkip wawancara, observasi dan dokumen tertulis )
2.      Peneliti memasuki proses riset dengan membawa sedikit mungkin asumsi. Ini berarti menjauhkan diri dari teori yang sudah ada.
3.      Peneliti tidak semata-mata bertujuan untuk menguraikan atau menjelaskan, tetapi juga mengonseptualisasikan dan berupaya keras untuk menghasilkan dan mengembangkan teori.
Hal yang spesifik yang membedakan pengumpulan data pada penelitian Grounded Theory  dari pendekatan kualitatif lainnya adalah pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan. Paling tidak, pada Grounded T heory sangat ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Seorang peneliti Grounded Theory selalu mempertanyakan "Mengapa suatu kondisi terjadi?", "Apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?", dan "Seperti apa tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung?” "Apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?", dan "Seperti apa tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung?”














BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Grounded Theory adalah satu jenis metode penelitian kualitatif yang berorientasi pada penemuan teori dari kancah. Dilihat dari prosedur, prinsip, dan teknik yang digunakan, metode ini benar-benar bersifat kualitatif murni, tetapi jika dilihat dari kerangka berpikir yang digunakan ternyata secara implisit pendekatan ini meminjam metode kuantitatif. Paling tidak ada 3 (tiga) dasar kerangka berpikir kuantitif yang dipinjam Grounded Theory;
Grounded theory menghasilkan dua jenis teori: teori substantive dan teori formal. Pengukuran fenomena. penelitian kualitatif pada umumnya tidak melakukan pengukuran terhadap data yang ditemukannya, melainkan lebih menekankan pada pengelompokan konfigurasi dari variasinya. Lain hal dengan Grounded Theory, di sini dilakukan pengukuran-pengukuran, sebagaimana yang lazim dilakukan pada metode kuantitatif.
Penggunaan variabel; Secara eksplisit memang tidak pernah disebut-sebut istilah variabel dalam Grounded Theory. Tetapi dengan penggunaan paradigma teoritik yang membagi fenomena ke dalam kondisi kausal, konteks, kondisi pengaruh, tindakan/interaksi, dan konsekwensi, serta mencari hubungan-hubungan antara unsur-unsur itu merupakan pertanda bahwa di dalam metode ini digunakan konsep-konsep yang identik dengan variabel.
Perkawinan metode kualitatif dengan kuantitatif dalam Grounded Theory merupakan satu perkembangan baru yang patut diberi apresiasi positif. Proses perkawinan itu sendiri harus dimaklumi, tidak saja karena Strauss dan Glaser sebagai dua tokoh penggagas metode ini yang memiliki latar pemikiran yang berbeda (kualitatif dan kuantitatif), melainkan juga karena tuntutan perkembangan metode keilmuan yang terus berkembang. Mau tidak mau, metode kualitatif harus menata prosedur dan teknik-teknik penelitiannya agar semakin dipercaya sebagai metode yang dapat diandalkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 
B.     Saran
Penelitian dengan Grounded theory menuntut kualitas tertentu bagi peneliti pemula. Maka peneliti harus memiliki rasa percaya diri karena memang benar-benar mengerti. Kualitas dan kreatifitas serta wawasan yang luas harus dimiliki oleh seorang peneliti pemula. Adanya grounded theory ini membantu peneliti untuk keluar dari stagnasi teori. Semoga makalah mengenai Grounded Theory ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan untuk orang lain.



DAFTAR PUSTAKA
Amirin, Tatang M. Menyusun Rencana Penelitian.Ed,I.,Cet.3.1995.Jakarta: PT.Raja Grafindo
Bungin,Burhan. Metodologi Penelitian Sosial, Format-format kuantitatif dan  kualitatif.2001.Surabaya: Airlangga University Press
Creswell, John W. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating       Quantitative and Qulitative Research. 2008.New Jersey: Prentice Hall.
Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang
Masri Singarimbun. Metode Penelitian Survai. 1989.Jakarta: LP3ES
Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana



[1]Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy.Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 181
[2]Bungin,Burhan.MetodologiPenelitian Sosial, Format-format kuantitatif dan  kualitatif.2001.Surabaya: Airlangga University Press, hal 8-9
[3]Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal 110
[4]   Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 182.
[5] Amirin, Tatang M. Menyusun Rencana Penelitian.Ed,I.,Cet.3.1995.Jakarta: PT.Raja Grafindo, hal121-122


[6] Masri Singarimbun. Metode Penelitian Survai. 1989.Jakarta: LP3ES,hal 8-9
[7]Bungin,Burhan.MetodologiPenelitian Sosial, Format-format kuantitatif dan  kualitatif.2001.Surabaya: Airlangga University Press, hal 9

[8]  Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal 112
[9] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 182.
[10] Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal 114-115


[11] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 184.

[12] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 188
[13] Creswell, John W. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qulitative Research. 2008.New Jersey: Prentice Hall. Hal, 442

[14] Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal 119-120
[15] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 189

[16] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 195
[17] Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal 117
[18] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 186
[19]Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal 112
[20] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 197

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar